Wujud upacara paningset yang kedua yaitu abon-abon. Ada tiga jenis ubarampe yang nantinya panjenengan gunakan sebagai abon-abon, yaitu pisang ayu-suruh ayu, jeram gulung atau sekul golong, dan tebu wulung atau tebu arjuna.
Pisang ayu-Suruh ayu yaitu buah pisang raja dan daun sirih yang matemu rose. Pisang diambil maknanya dari bunga pisang yang namanya tuntut, yang melambangkan jantung manusia. Melambangkan agar panjenengan selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam khasanah budaya Jawa, melambangkan pengetahuan tentang kesempurnaan hidup. Di samping itu, pisang raja melambangkan bahwa orang hidup seyogyanya tidak menyombongkan diri seperti ‘sok Raja’. Pisang raja yang digunakan adalah sepasang (setangkep), melambangkan bahwa suami dan istri nantinya saling menghargai, menghormati, dan memahami dalam menjalani hidup.
Daun sirih yang matemu rose, melambangkan bersatunya rasa antara mempelai wanita dengan pria. Makna ini diambil dari hakikat daun sirih itu meskipun tampak berbeda di bagian permukaan dan di bagian bawah, namun rasanya tetap sama saja. Ungkapan dalam bahasa Jawa adalah ‘Suruh nadyan beda lumah kurepe, nanging yen ginigit padha rasane’.
Jeram gulung atau jeruk bali melambangkan tekad yang bulat untuk menjodohkan anak laki-laki dan perempuan. Juga melambangkan tidak ada keraguan dalam melangkah berbesanan. Jika tidak ada jeram gulung, bisa digantikan dengan sekul golong. Sekul golong adalah nasi yang dibentuk bundar sebesar bola tenis. Nasi melambangkan pangan yang enak. Jadi sekul golong melambangkan doa dan harapan bahwa dalam berumah tangga nanti kedua mempelai akan mendapatkan kebahagiaan hidup.
Tebu wulung adalah tebu yang batangnya besar. Rasanya juga manis. Tebu wulung melambangkan harapan mempelai berdua memiliki hidup yang bahagia. Manis berarti mendapat kehidupan yang penuh keberkahan, menyenangkan. Apabila tidak terdapat tebu wulung dapat diganti dengan tebu arjuna.