Peningset – 1 Bakune Peningset

Ada lima jenis bakune paningset yang perlu panjenengan sediakan dalam upacara ini. Kelima jenis bakune paningset itu adalah kalpika, setagen, sindur, semekan, dan sinjang truntum. Masing-masing ubarampe harus ada dan tidak bisa digantikan oleh jenis yang lain. Terutama kalpika dan setagen.

Kalpika atau sesupe seser adalah cincin tanpa batu permata. Cincin yang melingkar tanpa batas ujung dan ekornya adalah lambang ketulusan niat dan ketetapan hati yang akan menjodohkan anak lelaki dan perempuan. Cincin ini dipakai saat upacara liru kalpika atau tukar cincin. Sebelum menikah, cincin dipakai di jari manis sebelah kiri. Namun setelah akad nikah dipakai di jari manis sebelah kanan.

Setagen atau paningset. Inti dari kain setagen adalah lawe atau benang yang merupakan bahan baku pembuatan segala macam sandang atau pakaian. Jadi setagen melambangkan doa dan harapan agar mempelai berdua nantinya kecukupan sandang (materi) dalam hidupnya. Setagen biasanya dipakai dan dililitkan kuat di pinggang saat memakai kain jarik agar kencang. Makna yang lebih dalam adalah doa dan harapan agar mempelai berdua nantinya diberikan kekuatan dalam menghadapi segala suka dan duka dalam berumah tangga.

Sindur atau slindur berupa selembar kain berwarna merah dan putih. Warna merah melambangkan perempuan dan putih melambangkan laki-laki. Maknanya adalah bersatunya pria dan wanita dalam tali perkawinan yang diharapkan akan memiliki keturunan.

Semekan atau kemben yaitu kain batik yang dipakai untuk menutupi tubuh wanita dari pinggul hingga dada. Sebelum ada BH, kain kemben merupakan pelindung payudara (sumber ASI). Semekan melambangkan kesopanan dalam berpakaian, khususnya adab berpakaian bagi wanita.

Sinjang truntum adalah kain batik motif truntum, yaitu dengan gambar bintang yang bertebaran di angkasa. Bintang diwujudkan dalam warna yang terang diantara warna dasar kain yang gelap. Melambangkan bahwa hidup tidak dapat lepas dari gelap dan terang, yang jelas perbedaannya, sehingga akan selalu mengupayakan segala hal yang terang. Motif bergambar bintang bertebaran di angkasa melambangkan hidup yang apabila berada dalam ‘kegelapan’ (kesusahan) segera mendapat penerangan. Demikian sebaliknya apabila ketika hidup sedang mengalami kebahagiaan atau kesenangan, hendaknnya selalu ingat bahwa situasi kebalikannya adalah juga bagian dari perjalanan hidup.

 

Selanjutnya Abon Abon

Tentang Admin

KPA Winarnokusumo Dikirim pada

Wakil Pangageng Sasana Wilapa
Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *