Tatacara Pasang Tarub

Pasang Tarub adalah salah satu tradisi yang dilaksanakan untuk menghormati, meneladani, dan melestarikan apa yang pernah dilakukan Ki Ageng Tarub. Salah satu leluhur Keraton ini menyadari rumahnya yang kecil saat ingin menikahkan putranya. Maka, Ki Ageng Tarub membuat bleketepe kemudian disusun dan ditata sedemikian rupa.

Bleketepe dipasang di atap rumah dan juga dijadikan pagar. Rumah Ki Ageng Tarub yang tadinya kecil kemudian terlihat lebih luas karena tambahan atapnya. Selain itu kelihatan lebih indah sehingga menjadi wahana untuk menghormati para tamu. Tradisi inilah secara turun-temurun dilestarikan hingga kini.

Tarub dapat berarti atap yang tersusun dari bleketepe. Bleketepe berasal dari kata ketepe yang berarti anyaman daun kelapa satu tangkai. Ketepe ditata mengelilingi rumah secara penuh atau dalam bahasa Jawa di blek, kemudian disebut bleketepe. Jadi tarub adalah bleketepe yang ditata dan disusun secara beraturan utamanya dipakai sebagai atap dan juga dipakai sebagai pagar maupun dinding pembatas.

Tatacara upacara pasang tarub diawali Bapak/Ibu keluar dari rumah menuju teras sambil berdoa. Sesampainya di depan rumah, Bapak menaiki tangga, lalu ibu memberikan bleketepe kepada Bapak. Bleketepe dipasang Bapak di atas kori dalem. Setelah selesai, Bapak turun dan bersamaan dengan Ibu membuka tuwuhan di kiri dan kanan.

Makna tradisi pasang tarub ini, pertama tarub yang dipasang sebagai atap atau tambahan atap di depan rumah sebagai tanda penghormatan sekaligus penanda tempat duduknya para tamu. Kedua, tarub yang dipasang di belakang rumah (biasanya untuk perluasan area memasak) merupakan penanda bahwa pemangku hajat secara etika memenuhi kewajiban dalam menjamu para tamu.

 

Selanjutnya Pasang Tuwuhan

Tentang Admin

KPA Winarnokusumo Dikirim pada

Wakil Pangageng Sasana Wilapa
Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *