Tatacara Sengkeran

Di lingkungan Karaton, calon mempelai pasti disengker setelah siraman. Disengker disebut juga dipingit. Jadi calon mempelai tidak boleh keluar dari kamar. Ibaratnya calon mempelai dikarantina. Hal itu dilakukan, karena biasanya gadis yang sudah siraman akan tampak lebih bersinar. Dikhawatirkan bisa terjadi hal yang tidak diinginkan. Seperti hilangnya calon mempelai wanita menjelang hari pernikahan.

Tradisi Jawa disebut sengkeran. Disengker artinya calon mempelai tidak boleh keluar dari pekarangan rumah (lingkungan rumah) hingga seluruh rangkaian upacara pernikahan selesai. Tujuannya agar calon mempelai wanita terjaga keselamatannya hingga upacara pernikahan berlangsung.

Calon mempelai wanita resmi disengker setelah upacara siraman. Upacara siraman sebagai penanda dimulainya sengkeran dilandasi filosofi bahwa setelah siraman, calon mempelai telah bersih lahir dan batinnya. Jadi perlu dijaga agar tidak mendapatkan pengaruh dari hal-hal yang merugikan pernikahan. Pada tradisi masa lalu, calon mempelai wanita sebenarnya memang dipingit, di mana seorang gadis tidak boleh keluar dari lingkungan rumah sebelum mendapat jodoh hingga sampai acara panggih.

Sengkeran calon mempelai pria biasanya dimulai setelah upacara nyantri atau ngenger kepada calon mertua. Upacara nyantri berarti calon mempelai pria datang ke rumah calon mertua untuk melaporkan kesiapannya untuk dinikahkan. Sekaligus untuk magang atau semacam tinggal di lingkungan rumah mertua (biasanya diberikan pondokan sendiri).

Saat sengkeran, calon pengantin wanita mengenakan pakaian nyamping atau sinjang atau kain wahyu tumurun dan dodot semekan kancing wingking dengan bros. Bagian rambut memakai ukel ageng banguntulak pandhan binethot dan bros penetep. Kemudian perhiasan seperti cundhuk jungkat, sengkang atau giwang, kalung, gelang, dan kalpika atau cincin.

Calon pengantin putra mengenakan beskap padintenan dan nyamping atau sinjang atau kain wahyu tumurun. Kelengkapan di bagian kepala ada udheng atau blangkon motif modang, . Ada epek timang motif untu walang atau lung-lungan. Tidak ketinggalan dhuwung atau keris dan sabuk motif cindhe.

Tentang Admin

KPA Winarnokusumo Dikirim pada

Wakil Pangageng Sasana Wilapa
Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *